Trunyan, Desa Bali Aga nan Terpencil
WAJAH Ketut Donil menampakkan senyum ramah. Pria muda dengan tato di dada dan lengan serta betisnya ini dengan sigap mendorong perahu menjauhi tepi danau. “Bapak mau diantar ke kuburan?” ujar Donil.
Deru mesin tempel mengiringi perjalanan perahu menyibak air Danau Batur, menyusuri lereng Bukit Abang yang menjulang kokoh bak sebuah benteng istana. Di sepanjang perjalanan dari Desa Trunyan menuju lokasi kuburan, Donil dengan lancar bertutur. “Di sini ada tiga kuburan. Sema (kuburan) Wayah bagi warga yang kematiannya wajar. Letaknya paling utara. Sema Muda untuk menguburkan bayi dan anak kecil atau warga yang sudah dewasa tetapi belum menikah,” ujarnya.
Kuburan lainnya adalah Sema Bantas untuk warga yang kematiannya tidak wajar, misalnya karena kecelakaan atau karena bunuh diri. Dua kuburan pertama, Sema Wayah dan Sema Muda, letaknya agak berjauhan dengan desa, sedangkan Sema Bantas terletak di dekat Desa Trunyan.
Sepuluh menit berperahu, kami tiba di sebuah pura yang terletak di kaki lereng Bukit Abang bagian barat, di tepi Danau Batur. Pura Dalem, demikian warga sekitar menyebutnya. Tidak jauh dari pura tersebut berdiri sebuah dermaga kayu yang berada persis di depan sepasang candi gerbang menuju lokasi Sema Wayah.
Hari itu, Rabu (18/5), baik pura maupun kuburan ini terlihat sepi. Tidak terlihat ada orang lain selain kami berdua. Menurut Donil, pura ini setiap harinya dijaga 14 warga setempat. Mereka adalah pemandu wisata yang akan mendampingi wisatawan saat berkunjung ke kuburan, yang letaknya di luar kompleks Pura Dalem. “Hari ini memang sepi, selain juga karena tidak ada tamu ke sini,” ujar Donil sambil melabuhkan perahunya ke tepian.
Dari pura, Donil mengarahkan perjalanan ke kuburan. Saat berdiri sejenak di pinggir dermaga kayu, tersaji jelas dua keajaiban alam nan memesona. Menoleh ke arah barat, menyeberangi Danau Batur, menjulang Gunung Batur. Namun, begitu menengok ke arah timur, sebuah pohon besar menaungi sebentuk altar batu. Tidak ada sesajen bunga atau buah layaknya altar persembahyangan, yang ada hanya puluhan tengkorak manusia yang berjejer rapi.
“Pohon besar ini, menurut kepercayaan masyarakat kami di Trunyan, menyerap bau busuk sehingga meskipun mayat dibiarkan tanpa dikubur, tidak ada bau busuk tercium. Pohon ini dikenal sebagai Taru Menyan,” ujar Donil menerangkan.
Taru Menyan sendiri diyakini sebagai asal mula nama Desa Trunyan. Konon, pohon ini pernah menyebarkan bau sangat harum. Keharumannya inilah yang menyerap bau busuk mayat-mayat di kuburan ini. “Jangan pernah mengambil barang-barang yang ada di sini. Barang-barang itu milik orang-orang yang dikubur di sini,” ujarnya mengingatkan.
MENYEBUT Trunyan, ingatan langsung pada sebuah desa kecil yang letaknya terpencil di tepi Danau Batur dan di kaki Bukit Abang. Terbayang pula suasana kehidupan masyarakat Bali tempo dulu dengan tradisi kuat menyelimuti desa ini.
Trunyan adalah salah satu desa Bali Aga (Bali kuna) yang berada di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Hampir serupa dengan desa Bali Aga, yaitu Tenganan di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, Trunyan memiliki perbedaan dengan desa-desa di Bali umumnya.
Warga Trunyan menyebut diri mereka sebagai Bali Turunan, yaitu orang yang pertama kali turun dari langit dan menempati tanah Pulau Bali. Sementara penduduk Bali lainnya disebut Bali Suku yang berasal dari Jawa (Majapahit). Antropolog James Danandjaja yang pernah meneliti di Trunyan menyebutkan, masyarakat Trunyan memang memiliki kebanggaan pada ciri-ciri kelompoknya yang berbeda dengan masyarakat Bali lainnya.
Meskipun sama-sama menganut agama Hindu, nilai dan tradisi yang dianut warga Trunyan berbeda dengan desa-desa di Bali lainnya. Dalam upacara kematian, misalnya, warga Trunyan juga mengenal ngaben layaknya masyarakat Bali pada umumnya, namun mayatnya tidak dibakar.
Apabila salah seorang warga Trunyan meninggal secara wajar, mayatnya ditutupi kain putih, diupacarai, kemudian diletakkan tanpa dikubur di bawah pohon besar, Taru Menyan, di Sema Wayah. Namun, apabila penyebab kematiannya tidak wajar, mayatnya dikuburkan di Sema Bantas. Keunikan ini menarik wisatawan untuk berkunjung ke Trunyan.
Keunikan lainnya adalah peninggalan purbakala, Prasasti Trunyan. Tersebutlah pada tahun Saka 813 (891 Masehi), Raja Singhamandawa mengizinkan penduduk Turunan (Trunyan) membangun kuil. Kuil berupa bangunan bertingkat tujuh ini merupakan tempat pemujaan Bhatara Da Tonta.
Kuil bertingkat tujuh ini dinamakan Pura Turun Hyang. Di dalamnya tersimpan arca batu Megalitik yang dipercaya dan disakralkan masyarakat Trunyan sebagai arca Da Tonta. Dikenal pula sebagai Pura Pancering Jagat sebagai istana Ratu Gede Pancering Jagat.
Setiap dua tahun sekali di pura ini digelar upacara besar. Tepatnya pada Purnama Sasih Kapat. Masyarakat Trunyan merayakannya dengan pementasan tarian sakral, Barong Brutuk dan tari Sanghyang Dedari. “Sayangnya, tarian Sanghyang Dedari kini sudah punah, tidak ada lagi yang menarikannya. Saya pun sudah tidak ingat lagi kapan tarian ini terakhir ditarikan,” ungkap Kepala Desa Trunyan I Ketut Persa.
DESA Trunyan memiliki lima banjar, yang letaknya relatif berjauhan. Pusat desa ini adalah Trunyan, sebuah perkampungan yang terletak di tepi timur Danau Batur, sekitar 45 menit berperahu dari Desa Kedisan, Kintamani. Kintamani sendiri terletak sekitar 65 kilometer arah utara Kota Denpasar.
Jalan aspal dari Kintamani menuju Desa Trunyan ini berujung di Cemara Landung, salah satu kampung di Banjar Trunyan yang berbatasan dengan Desa Buahan, Kintamani. Dari Cemara Landung ke Desa Trunyan, masih diperlukan lagi sekitar 8 sampai 10 menit berperahu.
Empat banjar lainnya di Trunyan masing-masing Banjar Madya, Banjar Bunut, Banjar Mukus, dan Banjar Puseh. Banjar Madya dan Banjar Bunut berada di sebelah selatan Desa Trunyan dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Karangasem. Dari Desa Trunyan ke Banjar Bunut butuh waktu sekitar dua jam berjalan kaki. Itu pun melewati jalan setapak dan mendaki Bukit Abang. (Cokorda Yudistira) Demikian yang saya copy dari harian kompas (malas ke sana, cape jauh lagi he he he)

thx ats artikelnya…
penting utk tugas kuliah..
hehe…
\(^-^)/
SMGT!!
makasih artikel nya…
lumayan buat info mau ke sana..
hehe..
Hi
Thank’s alot jangan lupa kalao ke Bali contact kita2 ya
halo,
knapa ga ada crita tentang para pemalaknya? sangat terkenal banget kalee…,smua orang juga tau trunyan=desa pemalak
dimuat dong..,biar objective..
cool, trunyan emang hebad